Sangat singkat, surah Al-Fātiḥa (secara harfiah « Pembukaan ») membuka Al-Qur’an dalam bentuk doa yang ditujukan kepada Allah, yang berisi pujian, permohonan pertolongan, dan permintaan untuk dituntun ke « jalan yang lurus ».
Dibacakan setiap hari dalam salat ritual, surah ini menetapkan nada kesalehan Qur’ani: penyembahan eksklusif kepada Allah, ketergantungan kepada-Nya, dan cakrawala Hari Penghakiman. Sejak awal, surah ini mengajukan pertanyaan pokok yang akan dikembangkan oleh seluruh Al-Qur’an: apakah « jalan yang lurus » itu dan bagaimana mengenalinya.
Surah ini dimulai dengan pujian. Segala sesuatu diawali dengan pengakuan dan rasa syukur. Kata al-ḥamd menunjuk pada pujian yang penuh dan menyeluruh, yang ditujukan kepada Allah karena Dia adalah sebagaimana adanya.
Allah kemudian disebut rabb al-ʿālamīn, yaitu « Tuhan seluruh alam ». Kata rabb tidak hanya berarti penguasa; ia juga menggambarkan Dia yang memelihara, menumbuhkan, membimbing, dan menjaga. Adapun ʿālamīn mencakup seluruh ciptaan: manusia, malaikat, jin, yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Kemudian muncul dua nama ilahi: al-Raḥmān (Yang Maha Pengasih) dan al-Raḥīm (Yang Maha Penyayang). Keduanya berasal dari akar kata r-ḥ-m, yang berkaitan dengan belas kasih, kelembutan, bahkan gambaran rahim seorang ibu. Sejak kata-kata pertama, surah ini menempatkan belas kasih di pusatnya.
Nama al-Raḥmān sering muncul dalam Al-Qur’an. Bahkan ada satu surah yang seluruhnya memakai nama ini: surah 55, Ar-Rahman. Surah itu menyebutkan berbagai nikmat yang diberikan kepada ciptaan dan mengulang seperti sebuah refrain: « Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? » (Q. 55:13).
Di tempat lain, Al-Qur’an juga menyatakan bahwa Allah memiliki banyak nama yang menyatakan siapa Dia. Misalnya tertulis: « Nama-nama yang paling indah adalah milik Allah; maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu » (Q. 7:180). Tradisi Islam kemudian mengembangkan gagasan ini dengan berbicara tentang « 99 nama Allah », di antaranya al-Raḥmān dan al-Raḥīm.
Gelar rabb al-ʿālamīn juga muncul di tempat lain dalam Al-Qur’an. Para nabi menggunakannya untuk menegaskan bahwa hanya Allah yang benar-benar berkuasa, berlawanan dengan dewa-dewa palsu dan berhala (Q. 26:23–24; Q. 37:87). Karena itu gelar ini tidak hanya memuji Allah, tetapi juga menolak setiap kekuasaan religius lain.
Pujian ini sudah menimbulkan sebuah pertanyaan penting. Dalam Alkitab, pujian memang memuliakan kebesaran Tuhan, tetapi juga mengingatkan apa yang telah Ia lakukan: penciptaan, keluaran dari Mesir, perjanjian, dan pembebasan nyata bagi umat-Nya.1 Di sini, pujian terutama menyatakan siapa Allah itu; ia tidak menceritakan sebuah sejarah.
Kata rabb juga membuka sebuah pertanyaan yang lebih dalam. Jika kata ini menunjuk kepada Dia yang memelihara, membimbing, dan menumbuhkan, maka muncul pertanyaan: sampai sejauh mana kedekatan itu berlangsung? Dalam Alkitab, Tuhan berbicara, menyertai, menegur, dan menghibur; Ia semakin mendekat kepada umat-Nya sebagai seorang bapa, seorang gembala, bahkan sebagai mempelai.
Di sinilah tampak kontras yang kuat dengan iman Kristen. Dalam kekristenan, belas kasih Tuhan tidak hanya menjadi nama atau sifat: ia menjadi nyata dalam daging. « Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita » (Yoh 1:14).2 Pertanyaan utamanya kemudian menjadi: apakah belas kasih bekerja dari jauh, ataukah ia sendiri datang mendekati manusia?
Pembukaan surah pertama ini menggunakan bahasa yang sudah dikenal dalam dunia Alkitab. Mazmur juga sering dimulai dengan berkat dan pujian: « Terpujilah Tuhan, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya » (Mzm 40[41]:14).3 Karena itu pembaca menemukan suasana religius yang tidak asing.
Akar kata r-ḥ-m juga termasuk dalam warisan Semitik yang lebih luas. Dalam bahasa Ibrani, raḥamim berarti belas kasih atau kasih sayang, dan juga menggambarkan kelembutan yang hampir bersifat keibuan. Nabi Yesaya mengungkapkannya dengan kuat: « Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya yang menyusu? » (Yes 49:15).4
Dengan demikian Al-Qur’an memakai kata-kata yang sudah dikenal. Namun ia menatanya dengan cara yang berbeda. Belas kasih tidak lagi terutama terkait dengan sejarah suatu perjanjian atau pembebasan tertentu; di sini ia tampil sebagai sifat universal Allah, yang dinyatakan di atas seluruh alam.
Surah ini berasal dari konteks Mekah. Muhammad berbicara di tengah dunia yang politeistik, penuh dengan tempat suci, suku-suku yang bersaing, dan banyak dewa. Menyatakan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam berarti menyatakan sebuah pemutusan yang jelas dengan lingkungan itu.
Nama al-Raḥmān sendiri tampaknya mengejutkan beberapa pendengar. Al-Qur’an mencatat reaksi itu: « Ketika dikatakan kepada mereka: sujudlah kepada al-Raḥmān, mereka berkata: apakah al-Raḥmān itu? » (Q. 25:60). Namun istilah ini sudah dikenal di Arabia selatan dalam prasasti kuno dan dalam lingkungan yang dipengaruhi oleh monoteisme Alkitab.
Sejak awal, surah ini menjadi doa utama dalam Islam. Ia dibacakan dalam setiap rakaat dari lima salat harian, sehingga mengiringi seluruh kehidupan religius umat Muslim. Dengan demikian pentingnya menjadi jelas: ia merangkum iman, pujian, dan permohonan dalam bentuk yang singkat, mudah diingat, dan universal.
Ayat-ayat ini menyatakan sesuatu yang kuat dan benar: Allah itu penuh belas kasih. Al-Qur’an menegaskannya sejak awal dengan khidmat. Ia membuka dengan sebuah kebesaran yang tidak hanya berupa kekuasaan.
Iman Kristen dapat mendengar pernyataan ini dan bahkan menerimanya, karena ia juga mengetahui bahwa Tuhan kaya akan belas kasih. Namun iman itu melangkah lebih jauh: bagi orang Kristen, belas kasih ilahi tidak hanya dinyatakan — ia datang kepada kita, memiliki wajah, dan memasuki sejarah manusia melalui inkarnasi Yesus Kristus.
Pertanyaan terakhir karena itu sederhana namun mendasar bagi iman. Jika Allah benar-benar rabb, Dia yang membimbing, memelihara, dan menumbuhkan, sejauh mana kasih itu berjalan? Apakah ia tetap di surga sebagai nama yang mulia, ataukah ia datang tinggal di antara mereka yang dikasihi-Nya?
Surah ini dimulai dengan pujian. Segala sesuatu diawali dengan pengakuan dan rasa syukur. Kata al-ḥamd menunjuk pada pujian yang penuh dan menyeluruh, yang ditujukan kepada Allah karena Dia adalah sebagaimana adanya.
Allah kemudian disebut rabb al-ʿālamīn, yaitu « Tuhan seluruh alam ». Kata rabb tidak hanya berarti penguasa; ia juga menggambarkan Dia yang memelihara, menumbuhkan, membimbing, dan menjaga. Adapun ʿālamīn mencakup seluruh ciptaan: manusia, malaikat, jin, yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Kemudian muncul dua nama ilahi: al-Raḥmān (Yang Maha Pengasih) dan al-Raḥīm (Yang Maha Penyayang). Keduanya berasal dari akar kata r-ḥ-m, yang berkaitan dengan belas kasih, kelembutan, bahkan gambaran rahim seorang ibu. Sejak kata-kata pertama, surah ini menempatkan belas kasih di pusatnya.
Nama al-Raḥmān sering muncul dalam Al-Qur’an. Bahkan ada satu surah yang seluruhnya memakai nama ini: surah 55, Ar-Rahman. Surah itu menyebutkan berbagai nikmat yang diberikan kepada ciptaan dan mengulang seperti sebuah refrain: « Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? » (Q. 55:13).
Di tempat lain, Al-Qur’an juga menyatakan bahwa Allah memiliki banyak nama yang menyatakan siapa Dia. Misalnya tertulis: « Nama-nama yang paling indah adalah milik Allah; maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu » (Q. 7:180). Tradisi Islam kemudian mengembangkan gagasan ini dengan berbicara tentang « 99 nama Allah », di antaranya al-Raḥmān dan al-Raḥīm.
Gelar rabb al-ʿālamīn juga muncul di tempat lain dalam Al-Qur’an. Para nabi menggunakannya untuk menegaskan bahwa hanya Allah yang benar-benar berkuasa, berlawanan dengan dewa-dewa palsu dan berhala (Q. 26:23–24; Q. 37:87). Karena itu gelar ini tidak hanya memuji Allah, tetapi juga menolak setiap kekuasaan religius lain.
Pujian ini sudah menimbulkan sebuah pertanyaan penting. Dalam Alkitab, pujian memang memuliakan kebesaran Tuhan, tetapi juga mengingatkan apa yang telah Ia lakukan: penciptaan, keluaran dari Mesir, perjanjian, dan pembebasan nyata bagi umat-Nya.1 Di sini, pujian terutama menyatakan siapa Allah itu; ia tidak menceritakan sebuah sejarah.
Kata rabb juga membuka sebuah pertanyaan yang lebih dalam. Jika kata ini menunjuk kepada Dia yang memelihara, membimbing, dan menumbuhkan, maka muncul pertanyaan: sampai sejauh mana kedekatan itu berlangsung? Dalam Alkitab, Tuhan berbicara, menyertai, menegur, dan menghibur; Ia semakin mendekat kepada umat-Nya sebagai seorang bapa, seorang gembala, bahkan sebagai mempelai.
Di sinilah tampak kontras yang kuat dengan iman Kristen. Dalam kekristenan, belas kasih Tuhan tidak hanya menjadi nama atau sifat: ia menjadi nyata dalam daging. « Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita » (Yoh 1:14).2 Pertanyaan utamanya kemudian menjadi: apakah belas kasih bekerja dari jauh, ataukah ia sendiri datang mendekati manusia?
Pembukaan surah pertama ini menggunakan bahasa yang sudah dikenal dalam dunia Alkitab. Mazmur juga sering dimulai dengan berkat dan pujian: « Terpujilah Tuhan, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya » (Mzm 40[41]:14).3 Karena itu pembaca menemukan suasana religius yang tidak asing.
Akar kata r-ḥ-m juga termasuk dalam warisan Semitik yang lebih luas. Dalam bahasa Ibrani, raḥamim berarti belas kasih atau kasih sayang, dan juga menggambarkan kelembutan yang hampir bersifat keibuan. Nabi Yesaya mengungkapkannya dengan kuat: « Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya yang menyusu? » (Yes 49:15).4
Dengan demikian Al-Qur’an memakai kata-kata yang sudah dikenal. Namun ia menatanya dengan cara yang berbeda. Belas kasih tidak lagi terutama terkait dengan sejarah suatu perjanjian atau pembebasan tertentu; di sini ia tampil sebagai sifat universal Allah, yang dinyatakan di atas seluruh alam.
Surah ini berasal dari konteks Mekah. Muhammad berbicara di tengah dunia yang politeistik, penuh dengan tempat suci, suku-suku yang bersaing, dan banyak dewa. Menyatakan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam berarti menyatakan sebuah pemutusan yang jelas dengan lingkungan itu.
Nama al-Raḥmān sendiri tampaknya mengejutkan beberapa pendengar. Al-Qur’an mencatat reaksi itu: « Ketika dikatakan kepada mereka: sujudlah kepada al-Raḥmān, mereka berkata: apakah al-Raḥmān itu? » (Q. 25:60). Namun istilah ini sudah dikenal di Arabia selatan dalam prasasti kuno dan dalam lingkungan yang dipengaruhi oleh monoteisme Alkitab.
Sejak awal, surah ini menjadi doa utama dalam Islam. Ia dibacakan dalam setiap rakaat dari lima salat harian, sehingga mengiringi seluruh kehidupan religius umat Muslim. Dengan demikian pentingnya menjadi jelas: ia merangkum iman, pujian, dan permohonan dalam bentuk yang singkat, mudah diingat, dan universal.
Ayat-ayat ini menyatakan sesuatu yang kuat dan benar: Allah itu penuh belas kasih. Al-Qur’an menegaskannya sejak awal dengan khidmat. Ia membuka dengan sebuah kebesaran yang tidak hanya berupa kekuasaan.
Iman Kristen dapat mendengar pernyataan ini dan bahkan menerimanya, karena ia juga mengetahui bahwa Tuhan kaya akan belas kasih. Namun iman itu melangkah lebih jauh: bagi orang Kristen, belas kasih ilahi tidak hanya dinyatakan — ia datang kepada kita, memiliki wajah, dan memasuki sejarah manusia melalui inkarnasi Yesus Kristus.
Pertanyaan terakhir karena itu sederhana namun mendasar bagi iman. Jika Allah benar-benar rabb, Dia yang membimbing, memelihara, dan menumbuhkan, sejauh mana kasih itu berjalan? Apakah ia tetap di surga sebagai nama yang mulia, ataukah ia datang tinggal di antara mereka yang dikasihi-Nya?
1 Mazmur 136:1 : « Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik, sebab kasih setia-Nya untuk selama-lamanya » — Mazmur ini menghubungkan pujian dengan kisah tindakan Tuhan dalam sejarah Israel.
2 Yohanes 1:14 : « Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita » — Iman Kristen menyatakan bahwa belas kasih Tuhan menjadi nyata dalam Yesus Kristus.
3 Mazmur 41:13 : « Terpujilah Tuhan, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya » — Ungkapan ini mengingatkan pada nada pujian yang juga muncul di awal surah ini.
4 Yesaya 49:15 : « Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya…? » — Ayat ini menunjukkan bahwa dalam Alkitab belas kasih ilahi juga digambarkan dengan citra keibuan.